Jumat, 02 Februari 2018

Finding Audrey (Aku, Audrey) karya Sophie Kinsella

25735056Judul: Finding Audrey (Aku, Audrey)
Penulis: Sophie Kinsella
Penerjemah: Angelic ZaiZai
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-602-03-1747-2
Rating: 🌟🌟🌟

Sinopsis:

Audrey menderita gangguan kecemasan.
Masalah psikologis ini sampai mengganggu kehidupan sehari-hari gadis berusia 14 tahun itu.
Kemajuan konsultasinya dengan Dr. Sarah pun berjalan perlahan.

Namun, ketika bertemu Linus, teman abangnya, Audrey jadi bersemangat. Ia merasa nyambung dengan cowok itu, bisa bercerita tentang berbagai ketakutan yang dirasakannya.

Saat persahabatan mereka semakin erat dan kesembuhannya semakin nyata, hubungan romantis yang manis terjalin di antara mereka. Hubungan yang bukan cuma menolong Audrey tapi juga seluruh keluarganya.
Review:

Pecinta The Shopaholic Series pasti tidak asing dengan nama Sophie Kinsella. Selain menulis cerita bergaya chicklit tersebut, Sophie Kinsella juga melebarkan jangkauannya ke ranah young adult. Kali ini karyanya berjudul Finding Audrey yang dalam versi terjemahan bahasa Indonesia juga berjudul Aku, Audrey. 

Buku terbitan 2015 ini menceritakan tentang Audrey Turner, gadis berusia 14 tahun yang menderita gangguan kecemasan semacam gangguan psikologis pada seseorang yang membuatnya takut pada orang asing. Mungkin tidak hanya orang asing, karena Audrey juga tidak berinteraksi dengan tetangganya. Gadis itu mendekam di rumahnya, menghabiskan waktunya di ruang menonton dengan lampu yang padam, dan memakai kacamata hitam. Kacamata hitam itu membuatnya tidak ketakutan saat bertatapan dengan orang lain. Audrey bahkan tidak bisa menatap mata keluarganya, kecuali Felix, adiknya yang berusia 4 tahun. Baginya, mata Felix terlihat jernih dan tidak menakutkan.
Kau menatap tepat ke mata seseorang dan seluruh jiwamu tersedot dalam waktu satu nanodetik. Seperti itulah rasanya. Mata orang lain tak terbatas dan itulah yang membuatku takut. – halaman 40.
Cerita ini kental dengan unsur kekeluargaan. Dari awal sampai ke akhir, keluarga Audrey punya peran yang penting. Interaksi-interaksi anggota keluarga juga dijelaskan dengan baik. Terutama Mrs. Turner, ibunya. Ibu Audrey digambarkan sebagai sosok ibu yang cantik, dan merupakan seorang alfa. Bahkan lebih alfa dari ayahnya sendiri. Kalian tahu alfa? Alfa adalah istilah untuk seorang penguasa atau pemimpin. Mrs. Turner adalah pecinta Daily Mail dan sangat percaya dengan segala informasi yang ada di sana. Salah satunya adalah gejala kecanduan game online pada anak yang membuatnya mengawasi Frank secara terus-menerus.

Frank sendiri adalah saudara Audrey yang gila dengan sebuah game bernama LOC (Land of Conquerors). Dia memiliki kabel cadangan di tasnya saat Mrs. Turner mencabut kabel data dari komputer. Frank juga akan bangun pukul 2 pagi untuk bermain saat mendapat larangan bermain game dari Mrs. Turner. Sementara ayah Audrey adalah tipe yang akan ikut campur saat keadaan sudah mulai serius. Mr. Turner terlihat sudah biasa dengan kehebohan istrinya.

Membaca ini membuat saya mengerti beberapa hal yang Audrey alami. Karena saya sendiri pun bukan orang yang gampang berinteraksi dengan orang lain. Jadi ketakutan-ketakutan Audrey itu bisa saya maklumi. Bagi saya, Audrey adalah tipe introvert yang parah. Dia menganggap rumah sebagai tempat teramannya.

Cerita dibuka dengan kehebohan di rumah Audrey saat Mrs. Turner mencoba melempar komputer Frank ke halaman rumah dengan Frank yang memohon-mohon, Felix yang menatap ibunya tertarik, dan Mr. Turner yang mencoba menghentikan istrinya dengan alasan mobil mereka yang belum lunas. Sementara Audrey hanya memandang keluarga dari dalam rumah melalui jendela. Kemudian cerita berbalik ke saat di mana ibunya mulai memperhatikan gerak-gerik Frank. Butuh sekitar 100-an halaman untuk menjelaskan awal histeria antara Mrs. Turner dengan Frank dan gamenya, yang membuat saya bosan. Tidak ada hal yang menurut saya benar-benar bisa memancing rasa penasaran saya. Sebenarnya saya sangat ingin tahu asal-muasal kenapa Audrey sampai harus berhenti dari sekolahnya, tapi hal itu belum juga dibahas saat sudah mencapai setengah dari total halaman buku ini.

Yang jadi daya tarik bagi saya pribadi adalah gangguan yang dialami Audrey. Video-video rekamannya serta konsultasi Audrey dengan Dr. Sarah juga menarik. Young adult juga rasanya tidak begitu klop kalau tanpa romance, jadi kisah Audrey dan Linus juga pemanis cerita yang bagus. Cara mereka berinteraksi dengan surat ataupun sentuhan di sepatu satu sama lain menurut saya manis sekali. O, iya, buku ini dituliskan dari sudut pandang pertama tokoh Audrey yang membuat kita lebih mudah untuk mengetahi perasaannya.

Bagi saya pribadi, yang menjadi kendala adalah terjemahan yang kurang luwes di awal. Saya bahkan membaca lima bab awal beberapa kali untuk benar-benar paham. Tapi buku ini minim typo yang membuat saya nyaman.

Secara keseluruhan, buku ini memiliki cerita yang menarik tentang mental health. Topik ketergantungan game online juga menarik mengingat banyaknya game yang berkembang dan menarik minat generasi muda. Karena itu saya merekomendasikan buku ini untuk semua pembaca. Tidak ada batasan usia karena tidak ada hal-hal sensitif atau konten dewasa di dalamnya.


P.S. Review ini merupakan baca santai saya dengan Kak Dipi. Kak Dipi adalah salah satu dari sekian banyak bookblogger yang kerap membahas buku-buku bacaanya di blog. Reviewnya juga ada beberapa yang berbahasa Inggris. Kali ini kami membaca buku dengan judul yang sama yaitu Finding Audrey. Yang berbeda hanyalah Kak Dipi membaca versi bahasa Inggrisnya, sementara saya membaca versi terjemahan.

Silakan berkunjung ke blog Kak Dipi untuk melihat reviewnya, ya.
Review Buku Finding Audrey – Sophi Kinsella dari Kak Dipi: http://www.dipiwarawiri.com/12-features/118-review-buku-finding-audrey-sophie-kinsella

Tidak ada komentar:

Posting Komentar